Catatan ini kutulis ketika yang kulihat hanya abu abu jalanan, sedikit hijau yang bergradasi, dan putih awan yang menutupi biru; warna yang dulu kusukai. Aku menikmati mereka, sembari memutar ulang mesin waktu di kepalaku yang membawaku pada 8 jam perjalanan bersamamu. Perjalanan hitam yang kelam, yang kini sedikit kusesali, tapi mungkin akan kukenang dengan senyum suatu hari nanti.
Aku seperti melihat kembali kau yang diam di sisi kiriku. Sesaat, aku cemburu pada ketenangan. Ia yang mampu meredam kemarahan dan sanggup membuat kau bernafas teratur. Kadang aku ingin sekali bertanya apakah kau lebih suka berdiam nyenyak atau melihatku terlelap… karena aku akan memilih yang kedua. Iya. Aku rasa, dulu, aku pasti sanggup menahan dua pasang kelopak mataku tetap terbuka demi melihatmu setenang itu. Menyadari kau tertidur seperti kelegaan bahwa akhirnya kau bisa sesaat melupakan dunia: dunia yang di dalamnya ada aku. Paling tidak, pada cerita kita yang mungkin tidak memiliki akhir di satu buku yang sama, kau akan bisa lebih cepat melupa. Kau tahu betul caranya.
Tadi pagi, setidaknya aku menghabiskan 10 menit untuk berdandan. Aku berharap, entah dengan skenario seperti apa, aku mungkin menemui seseorang yang kupinjam tulang rusuknya, sampai aku membuka kotak pesan yang penuh dengan namamu. Iya. Seharusnya kini aku berdandan untukmu, orang yang bahkan tak sanggup menunggu 5 menit untuk menyudahi kencanku dengan cermin. Tapi kupikir itu hal yang baik. Paling tidak, pada cerita kita yang mungkin tidak memiliki akhir di satu buku yang sama, kau akan bisa lebih cepat berhenti menunggu. Kau tahu betul caranya.
Ada banyak ruang kosong di bis ini, sebelum lagu ebiet g.ade menyesakkannya. Aku tak mengerti kenapa tak ada yang membandingkan kegalauan lagu lagunya dengan lagu lagu sekarang. Dan aku selalu suka bagaimana ia bercerita tentang camelia. Kau, dulu, kini, atau nanti, aku selalu penasaran seperti apa caramu menggambarku di kanvas mereka; orang orang yang kau kenal. Sebab aku pernah begitu memujamu, yang bahkan membuatku kehabisan udara hanya dengan mendengar suaramu. Dan itu jelas baik untukmu. Ingatanku selalu menjagamu dari kematian, meski kau hanya menggambarku sebagai coretan di tengah kanvas putih yang terlalu bersih. Paling tidak, pada cerita kita yang mungkin tidak memiliki akhir di satu buku yang sama, kau akan bisa lebih cepat menghapusku. Kau tahu betul caranya.
Aku masih akan di sini dengan banyak pikiran tentangmu. Jika nanti kau mendapati aku di tengah perjalanan, tak usah selamatkan aku (lagi). Sebab seringkali, hanya butuh satu kesempatan untuk menjaga apa yang telah kau selamatkan, sebelum kau membuangnya kembali.